Ketika Jari Lebih Lincah daripada Nalar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di banyak ruang kehidupan hari ini, layar ponsel menjadi perpanjangan tangan manusia. Sentuhan jari terasa ringan, cepat, dan nyaris tanpa jeda. Namun kecepatan ini sering disalahartikan sebagai kecakapan. Banyak orang merasa telah melek digital hanya karena mampu membuka aplikasi dan menggulir layar. Padahal literasi digital menuntut lebih dari sekadar keterampilan teknis. Ia menuntut kesadaran, penilaian, dan tanggung jawab.
Kemampuan menggunakan gawai sering berhenti pada tahap operasional. Seseorang tahu cara memotret, mengunggah, dan membagikan. Namun sedikit yang berhenti sejenak untuk bertanya tentang makna dan dampak. Di sinilah batas antara “bisa pakai” dan “melek” menjadi jelas. Literasi digital mengajak pengguna untuk berpikir sebelum bertindak. Ia melibatkan nalar, bukan hanya refleks jari.
Fenomena ini terlihat jelas di media sosial. Konten viral di TikTok atau Instagram kerap ditelan mentah-mentah. Banyak yang meniru tanpa memahami konteks. Tantangan daring diikuti tanpa menimbang risiko. Kecepatan menyebar sering mengalahkan kedalaman berpikir. Akibatnya, ruang digital dipenuhi gema, bukan makna.
Literasi digital hadir sebagai penyeimbang. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang populer itu benar. Tidak semua yang sering muncul layak ditiru. Kesadaran ini penting agar ruang digital tidak menjadi ruang tanpa etika. Pengguna diajak membaca lebih dari judul dan menonton lebih dari potongan.
Dalam praktiknya, literasi digital menuntut kemampuan memilah informasi. Seseorang perlu mengenali mana fakta dan mana opini. Mana konten yang mendidik dan mana yang menyesatkan. Proses ini membutuhkan waktu dan latihan. Ia tidak lahir dari kebiasaan tergesa-gesa.
Lebih jauh, literasi digital juga berkaitan dengan empati. Setiap unggahan memiliki dampak pada orang lain. Komentar yang ditulis terbaca oleh manusia nyata. Kesadaran ini sering hilang di balik layar. Literasi digital mengembalikan sisi kemanusiaan dalam interaksi daring.
Tanpa literasi, teknologi hanya menjadi alat kosong. Ia cepat, tetapi tidak selalu bijak. Ia canggih, tetapi bisa melukai. Oleh karena itu, kecakapan digital perlu disertai kedewasaan berpikir. Melek digital berarti mampu mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan olehnya.
Pada akhirnya, literasi digital adalah perjalanan panjang. Ia dimulai dari kesadaran bahwa kemampuan teknis bukanlah segalanya. Dari situ, nalar dilatih untuk berjalan seiring dengan jari. Dunia digital pun menjadi ruang yang lebih bermakna.
Penulis: Resinta Aini Z.