Menebak dengan Cerdas: Belajar Estimasi dari Kelas IV
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pernahkah kita melihat anak menghitung kembalian di kantin sekolah dengan tergesa-gesa, lalu salah menebak jumlah uang yang harus dibayar? Situasi sederhana seperti itu ternyata bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan keterampilan berpikir yang disebut estimasi kemampuan memperkirakan hasil perhitungan dengan cepat dan masuk akal.
Sebuah penelitian menarik di sebuah SD di Surabaya telah dilakukan untuk memahami bagaimana anak-anak kelas IV belajar menggunakan estimasi saat menyelesaikan soal-soal aritmatika sosial, seperti jual beli, untung-rugi, dan diskon. Penelitian ini digagas oleh Nur Azizah Fahmi dan Neni Mariana dari Universitas Negeri Surabaya. Mereka menemukan bahwa proses belajar estimasi bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang cara berpikir dan kebiasaan bernalar. Anak-anak diajak untuk tidak sekadar mencari jawaban tepat, tetapi juga untuk “menebak dengan cerdas” — memperkirakan hasil perhitungan sebelum benar-benar menghitung.
Guru di kelas memulai pelajaran dengan cara yang sederhana namun efektif: mengingatkan aturan pembulatan angka, lalu mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika anak membeli dua roti seharga Rp4.800, guru bertanya, “Kalau kamu bawa uang Rp10.000, cukup tidak kira-kira?” Dari situ, siswa belajar membulatkan harga menjadi Rp5.000 dan memperkirakan totalnya menjadi Rp10.000 sederhana, tapi bermakna. Pembelajaran pun dibuat menyenangkan. Guru menggunakan video pendek untuk menarik perhatian, dan role-playing agar anak-anak bisa berperan sebagai penjual dan pembeli. Dalam suasana bermain peran inilah mereka belajar berpikir cepat, memperkirakan harga, dan memeriksa apakah perhitungannya masuk akal.
Meski tampak mudah, ternyata tidak semua siswa mampu melakukan estimasi dengan baik. Beberapa masih kesulitan memahami aturan pembulatan angka kapan harus membulatkan ke atas, kapan ke bawah. Ada juga yang bingung mengubah soal cerita menjadi kalimat matematika. Menariknya, kemampuan anak sangat beragam. Siswa yang memiliki kemampuan matematika tinggi bisa melewati semua tahap pemecahan masalah dengan baik, mulai dari memahami soal hingga memeriksa kembali jawabannya. Sementara itu, siswa dengan kemampuan sedang kadang lupa memeriksa ulang, dan yang kemampuannya rendah sering kali melompati beberapa langkah.
Dalam penelitian ini, guru memainkan peran yang sangat penting. Ia tidak lelah mengulang aturan pembulatan, memberi latihan tambahan, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Video pembelajaran dan permainan jual-beli sederhana digunakan untuk memperkuat pemahaman. Guru juga berusaha menumbuhkan kebiasaan reflektif mendorong anak untuk mengecek kembali hasil pekerjaannya. Dengan begitu, siswa belajar bahwa berhitung bukan hanya soal mendapatkan jawaban, tetapi juga memahami proses berpikir di baliknya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa mengajarkan estimasi sejak dini membantu anak berpikir fleksibel, tidak takut salah, dan terbiasa menilai kewajaran sebuah hasil perhitungan. Dengan kata lain, mereka belajar numerasi fungsional kemampuan berhitung yang benar-benar berguna dalam hidup. Hasil penelitian ini memberikan pesan yang kuat bagi para guru sekolah dasar. Pembelajaran matematika sebaiknya tidak hanya berfokus pada hasil akhir yang “benar”, tetapi juga pada proses berpikir di balik jawaban. Guru dapat menggunakan konteks nyata, media menarik, dan kegiatan interaktif agar siswa lebih mudah memahami konsep estimasi.
Keterampilan estimasi sering kali dianggap sepele, padahal sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari memperkirakan harga belanjaan, menghitung waktu perjalanan, hingga menakar bahan masakan, semua membutuhkan kemampuan memperkirakan secara logis. Yang paling penting, estimasi bisa menjadi jembatan antara matematika di sekolah dan kehidupan nyata. Melalui pembelajaran yang sederhana namun bermakna, anak-anak belajar bahwa matematika bukan sekadar angka di kertas, melainkan alat untuk memahami dunia di sekitar mereka.
Penulis : Neni Mariana, S.Pd., M.Sc., Ph.D.
Gambar : google.com