Mitos Gaya Belajar Visual, Auditori, Kinestetik (VAK) Mulai Ditinggalkan Sekolah Progresif
Konsep gaya belajar Visual, Auditori, dan Kinestetik (VAK) yang telah lama mendominasi dunia pendidikan kini mulai dipertanyakan dan ditinggalkan oleh sekolah-sekolah dasar progresif. Meskipun populer di kalangan guru dan orang tua, penelitian neurosains modern secara konsisten gagal membuktikan bahwa mencocokkan metode pengajaran dengan gaya belajar VAK siswa dapat meningkatkan hasil akademik. Akibatnya, sekolah-sekolah ini mulai beralih dari pelabelan siswa ke pendekatan yang lebih holistik dan berbasis bukti ilmiah.
Para ahli pendidikan mengkritik model VAK karena dianggap terlalu menyederhanakan cara kerja otak manusia yang kompleks. Melabeli seorang anak sebagai "tipe visual" berisiko membatasi potensinya dan membuat guru enggan memberikan stimulasi melalui modalitas lain seperti auditori atau kinestetik. Padahal, otak belajar paling efektif ketika informasi disajikan melalui berbagai jalur (multimodal), yang memungkinkan terbentuknya koneksi saraf yang lebih kuat dan pemahaman yang lebih mendalam. Pendekatan baru ini menekankan pentingnya variasi metode mengajar dalam satu sesi pembelajaran.
Tantangan terbesarnya adalah mengubah pola pikir yang sudah mengakar selama puluhan tahun. Banyak guru yang telah terbiasa merancang pembelajaran berdasarkan gaya belajar VAK merasa enggan untuk beralih. Selain itu, banyak lembaga pelatihan guru dan materi ajar yang masih mempromosikan konsep ini. Diperlukan upaya sosialisasi dan pelatihan yang masif dari dinas pendidikan untuk memperkenalkan temuan-temuan baru dalam ilmu kognitif dan pedagogi kepada para pendidik di lapangan.
Oleh karena itu, pergeseran ini bukan tentang meniadakan pentingnya media visual, audio, atau aktivitas fisik, melainkan tentang menggunakannya secara terintegrasi untuk semua siswa, bukan secara eksklusif untuk kelompok tertentu. Fokusnya kini adalah menciptakan lingkungan belajar yang kaya stimulasi dan beragam, yang memungkinkan setiap anak, terlepas dari preferensi belajarnya, dapat mengakses dan memproses informasi secara optimal.