Refleksi TKA 2026: Menuju Pendidikan Indonesia yang Berkeadilan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sebagai
penutup dari rangkaian kebijakan pendidikan tahun ini, TKA 2026 memberikan pelajaran
berharga mengenai arti penting standardisasi mutu dalam keberagaman. Kebijakan
ini telah berhasil membuka mata semua pihak mengenai kualitas nyata pendidikan
di tingkat dasar secara nasional. Namun, hasil TKA tidak boleh hanya berhenti
sebagai angka-angka statistik, melainkan harus menjadi basis data untuk
melakukan perombakan besar-besaran terhadap ketimpangan kualitas antarwilayah.
Keberhasilan TKA 2026
tidak diukur dari seberapa banyak siswa yang mendapatkan nilai sempurna, tetapi
dari seberapa efektif pemerintah menindaklanjuti hasil tes tersebut. Sekolah
dengan skor rendah harus mendapatkan perhatian ekstra berupa bantuan fasilitas
dan peningkatan kapasitas guru, bukan justru ditinggalkan dalam persaingan.
Standar mutu haruslah bersifat mengangkat mereka yang di bawah, bukan hanya
mengapresiasi mereka yang sudah di atas.
Masyarakat harus terus
mengawal agar TKA tidak berubah menjadi beban baru yang melanggengkan
ketidakadilan sosial dalam pendidikan. Suara kritis dari guru, orang tua, dan
pengamat pendidikan adalah kontrol sosial yang diperlukan agar kebijakan ini
tetap berada di jalur yang benar. Pendidikan yang berkeadilan berarti
memberikan setiap anak kesempatan yang sama untuk mencapai standar mutu yang
ditetapkan tanpa memandang latar belakang mereka.
Di masa depan, format
evaluasi seperti TKA 2026 diharapkan dapat terus disempurnakan agar lebih ramah
terhadap keragaman potensi anak Indonesia. Penilaian yang holistik dan
berkelanjutan jauh lebih berharga daripada ujian tunggal yang menentukan
segalanya. Transformasi pendidikan adalah perjalanan panjang, dan TKA hanyalah
salah satu tonggak untuk memastikan kita tetap berjalan ke arah yang benar
menuju kemajuan bangsa.
Mari kita pandang TKA
2026 sebagai cermin yang jujur bagi sistem pendidikan kita. Dengan keberanian
untuk melihat kekurangan dan komitmen untuk melakukan perbaikan, standar mutu
yang kita impikan bukan lagi sekadar beban, melainkan kenyataan yang membawa
kesejahteraan bagi seluruh anak didik. Harapan besar tertumpu pada generasi ini
untuk tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, tangguh, dan mampu bersaing secara
adil di panggung dunia.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah