S2 DIKDAS UNESA SELENGGARAKAN MIMBAR IMIAH, PENTINGKAN DETEKSI DINI KESEHATAN MENTAL ANAK SD
S2dikdas.fip.unesa.ac.id , Surabaya — Program Pascasarjana Pendidikan Dasar (S2 Dikdas) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyelenggarakan acara ilmiah berupa Mimbar Imiah pada tanggal 21 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan narasumber ahli yaitu CH. Widayanti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog, yang membahas topik krusial tentang “Deteksi Dini dan Solusi Kesehatan Mental Anak Sekolah Dasar”. Dalam paparannya, Narasumber menjelaskan bahwa anak SD tidak hanya belajar dengan otak, tetapi juga dengan perasaan, sehingga kesehatan mental menjadi landasan utama kesiapan belajar. Masalah emosional anak seringkali tidak terlihat secara kasat mata, namun dapat memberikan dampak besar terhadap perkembangan dan prestasi mereka.
Data yang disampaikan menunjukkan kondisi kesehatan jiwa di Indonesia yang memerlukan perhatian serius. Sebanyak sekitar 20,48 juta orang mengalami masalah kesehatan jiwa, dengan prevalensi depresi mencapai 6,1% (lebih tinggi dari rata-rata dunia 3%), atau sekitar 12,75 juta orang. Selain itu, prevalensi narkoba meningkat dari 1,8% (2019) menjadi 1,95% (2021), yang setara dengan hampir 3,7 juta jiwa. Kekerasan dan perundungan pada anak juga menjadi salah satu faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan mental. Ibu Widayanti juga menyampaikan bahwa anak usia SD berada pada fase pembentukan konsep diri, regulasi emosi, dan motivasi belajar. Prestasi akademik tidak akan optimal tanpa dukungan kesehatan mental yang baik, karena anak yang senang cenderung lebih fokus, berani mencoba, dan memiliki daya tahan yang lebih kuat.
Kesehatan mental anak SD didefinisikan sebagai kemampuan anak untuk mengenali dan mengekspresikan emosi, mewujudkan hubungan sosial yang sehat, menghadapi tuntutan belajar sesuai tahap perkembangan, serta merasa aman, dihargai, dan kompeten. Gejala awal masalah kesehatan mental pada anak dapat muncul dalam bentuk malas sekolah, mudah menangis atau marah, menarik diri, hingga keluhan fisik seperti sakit perut dan pusing. Menurut WHO (2023), 8% anak usia 5-9 tahun dan 14% anak usia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Data SKI (2023) menunjukkan 2% remaja mengalami depresi, dengan proporsi perempuan (2,8%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (1,1%). Selain itu, 1/3 remaja mengalami masalah kesehatan dalam 12 bulan terakhir, dan 1/20 remaja mengalami gangguan jiwa (NAMHS, 2022).
Tanda-tanda dini yang perlu diwaspadai meliputi aspek emosional (mudah takut, sensitif, murung, atau tindakan berlebihan), aspek perilaku (perubahan mendadak, agresif atau pasif, menolak sekolah, atau ketergantungan berlebihan pada orang tua), serta aspek belajar (menghindari tugas, prestasi menurun, atau konsentrasi mudah terpecah). Faktor risiko masalah kesehatan mental pada anak SD antara lain pola asuh yang terlalu menekan atau permisif, lingkungan sekolah yang tidak aman (termasuk labeling dan bullying), tuntutan akademik yang tidak sesuai kemampuan, rendahnya keterampilan regulasi emosi, dan minimnya validasi emosi anak.
Peran berbagai pihak sangat penting dalam deteksi dini kesehatan mental anak. Orang tua diharapkan mampu mengenali perubahan emosi dan perilaku anak, mendengarkan tanpa menghakimi, dan tidak hanya fokus pada nilai akademik. Guru dituntut untuk mengamati fungsi anak di kelas, membedakan antara “tidak mau” dan “tidak mampu”, serta menyediakan ruang aman secara emosional. Sementara itu, psikolog bertugas melakukan asesmen perkembangan dan emosional, skrining dini melalui observasi, wawancara, atau alat ukur seperti Kuesioner Kekuatan dan membantu (SDQ), serta memberikan intervensi preventif. Prinsip deteksi dini yang perlu diperhatikan adalah fokus pada perubahan perilaku menetap (bukan satu kejadian), memperhatikan durasi, intensitas, dan dampak terhadap fungsi anak, serta membandingkan dengan tahap perkembangan anak (bukan dengan anak lain) tanpa memberikan label yang salah.
Instrumen SDQ digunakan untuk mendeteksi masalah perilaku dan emosi pada anak dan remaja usia 4-18 tahun, dengan kuesioner yang menggambarkan kondisi dalam 6 bulan terakhir. Instrumen ini terdiri dari 25 pernyataan yang mencakup domain masalah emosi, masalah perilaku, hiperaktivitas/inatensi, masalah hubungan dengan teman sebaya, serta perilaku prososial yang mendukung. Interpretasi hasil skrining dilakukan berdasarkan skor total dan skor masing-masing domain, dengan kategori normal, ambang/borderline, dan abnormal sesuai usia anak. Untuk mendukung kesehatan mental anak, lingkungan perlu memberikan validasi emosi, menciptakan ruang aman secara emosional di rumah dan sekolah, serta melakukan asesmen, skrining, edukasi, dan intervensi preventif secara teratur. Belajar dengan bahagia berarti anak merasa aman, paham, cukup, dan mampu, serta melihat kesalahan sebagai proses belajar.
Beberapa solusi praktis yang dapat diterapkan di sekolah antara lain memulai pembelajaran dengan mengendalikan emosi, mengapresiasi usaha anak (bukan hanya nilai), membuat aturan yang jelas dengan pendekatan empatik, dan menyediakan waktu tenang (cooling down corner). Di rumah, orang tua dapat mendengarkan anak tanpa menghakimi, mengajarkan bahasa emosi sejak dini, membuat rutinitas yang konsisten, dan mengurangi tuntutan berlebihan. Selain itu, penting untuk mengajarkan bahasa emosi dan melatih keterampilan mengatasi masalah (coping skills) sederhana seperti napas tenang, time-out positif, serta mengekspresikan emosi melalui gambar atau cerita. Narasumber juga menegaskan bahwa kunjungan ke psikolog diperlukan jika masalah kesehatan mental anak berlangsung lebih dari 1-2 bulan, mengganggu fungsi sekolah dan sosial, anak tampak tertekan secara emosional, atau strategi yang diterapkan oleh orang tua dan guru tidak memberikan hasil yang memadai.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah