Tangisan Anak SD yang Viral sebagai Kritik Sosial terhadap Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Fenomena tangisan anak sekolah dasar yang viral di
media sosial bukan sekadar peristiwa emosional yang bersifat individual,
melainkan cerminan persoalan struktural dalam sistem pendidikan dasar. Video
atau narasi yang menampilkan anak menangis akibat tekanan pekerjaan rumah
memantik diskusi publik yang luas. Peristiwa tersebut menunjukkan adanya
ketegangan antara tuntutan akademik dan kapasitas psikologis anak. Dalam
konteks pendidikan, anak seharusnya ditempatkan sebagai subjek belajar yang
memiliki hak atas rasa aman dan nyaman. Namun, realitas di lapangan kerap
memperlihatkan praktik pembelajaran yang berorientasi pada hasil semata.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan kritis mengenai keberpihakan sistem
pendidikan terhadap kebutuhan anak. Oleh karena itu, fenomena viral ini layak
dipahami sebagai kritik sosial yang lahir dari pengalaman nyata peserta didik.
Pendidikan dasar
memiliki mandat konstitusional untuk mengembangkan potensi anak secara
holistik. Artinya, sekolah tidak hanya bertanggung jawab pada capaian kognitif,
tetapi juga pada aspek emosional dan sosial. Ketika anak mengalami tekanan
hingga mengekspresikannya melalui tangisan, terdapat indikasi kegagalan dalam
pemenuhan fungsi tersebut. Beban pekerjaan rumah yang berlebihan dapat
menggerus motivasi belajar dan menimbulkan kecemasan. Dalam jangka panjang,
kondisi ini berpotensi menanamkan citra negatif terhadap proses belajar.
Pendidikan yang ideal seharusnya menumbuhkan rasa ingin tahu, bukan ketakutan.
Oleh sebab itu, pendekatan pembelajaran perlu ditinjau kembali secara kritis.
Media sosial
berperan besar dalam memperluas resonansi peristiwa ini di ruang publik.
Viralitas menjadikan pengalaman personal seorang anak berubah menjadi isu
kolektif yang menyentuh nurani masyarakat. Respons publik yang beragam
menunjukkan meningkatnya kesadaran terhadap hak-hak anak dalam pendidikan.
Namun, viralitas juga mengandung risiko penyederhanaan masalah yang kompleks.
Tidak semua persoalan pendidikan dapat diselesaikan dengan reaksi emosional
semata. Diperlukan analisis yang berbasis data dan kajian akademik agar solusi
yang ditawarkan bersifat berkelanjutan. Dengan demikian, media sosial perlu
diposisikan sebagai pemantik refleksi, bukan sekadar ruang penghakiman.
Dari sudut pandang
kebijakan, fenomena ini menuntut evaluasi terhadap implementasi kurikulum dan
strategi pembelajaran. Kurikulum yang baik tidak hanya tertulis dalam dokumen
resmi, tetapi juga tercermin dalam praktik sehari-hari di kelas. Guru memiliki
peran sentral dalam menerjemahkan kebijakan menjadi pengalaman belajar yang
bermakna. Namun, guru juga sering terjebak dalam tekanan administratif dan
target penilaian. Situasi ini dapat mendorong pemberian tugas yang tidak
proporsional. Oleh karena itu, dukungan sistemik terhadap guru menjadi
kebutuhan mendesak.
Tangisan anak yang
viral seharusnya dipahami sebagai sinyal peringatan bagi seluruh pemangku
kepentingan pendidikan. Orang tua, sekolah, dan pembuat kebijakan perlu duduk
bersama untuk merumuskan solusi yang berorientasi pada kepentingan terbaik
anak. Pendidikan dasar harus kembali pada tujuan utamanya, yaitu memanusiakan
manusia sejak usia dini. Pendekatan yang humanis dan empatik perlu
diintegrasikan dalam setiap proses pembelajaran. Dengan demikian, sekolah dapat
menjadi ruang aman bagi anak untuk tumbuh dan belajar. Kritik sosial yang
muncul dari peristiwa ini hendaknya menjadi momentum perbaikan. Jika direspons
secara tepat, pendidikan dasar dapat bergerak menuju arah yang lebih adil dan
ramah anak.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma
Supardi.